Showing posts with label oln. Show all posts
Showing posts with label oln. Show all posts

Teruntuk Sebuah Nama, Athalia



Aku terduduk di kasur ku pagi ini seperti biasanya, sendiri dan sepi. Aku bangkit dari tempat tidur ku dan membuka tirai kamar, langit masih gelap, ayam-pun masih mengumpulkan nyawa untuk berkokok. Matahari saja belum menampakkan wujud nya, pernah aku tawar menawar dengannya, bagaimana jika aku saja yang menggantikan tugasnya setiap pagi? Toh aku terjaga lebih cepat darinya, tapi rupanya aku tidak cukup terang katanya, walaupun terjaga paling pagi, tak akan mampu aku menyinari seisi dunia ini. Dasar, angkuh sekali dia, sampai berani dengan seenaknya menamai ku, Rembulan Pagi.
Pernah dia bertanya, mengapa aku selalu terbangun pagi sekali, padahal tidak ada hal penting yang harus aku kerjakan di waktu-waktu pagi, pun tidak ada yang aku sapa di pagi hari, bahkan Tuhan saja tidak aku sapa. Lalu ku katakan saja padanya, “bukankah kau harus tertidur dahulu sebelum terbangun?” Lalu dia terdiam, hari itu sang Matahari yang angkuh mungkin menghabiskan waktunya untuk merenungkan jawabanku di bawah selimut awan, karena langit menjadi mendung seharian. Mendung saja tanpa hujan.

Aku meninggalkan kamar ku dan menuruni tangga, seperti hari-hari biasanya, rumah ini terasa terlalu luas untukku. Rumah megah yang hanya dihuni aku serta dua pekerja yang terpaksa bangun lebih awal hanya agar aku tidak merasa sendirian setiap aku keluar kamar di pagi buta. Walau sebenarnya, kami juga hampir tidak pernah bertukar cerita, bulan-bulan awal mereka datang ke rumah ini mereka memang dengan aktif mengajak ku berdialog, tapi mungkin mereka mulai memahami dan terbiasa dengan diamnya diriku, atau mungkin lelah dengan dialog satu arah yang sangat monoton. Tetapi aku cukup berterimakasih kepada mereka, setidaknya mereka tidak mengatakan apa yang tidak ingin aku dengar, tidak melakukan yang tidak ingin aku lihat dan tidak menanyakan apa yang tidak ingin aku jawab.

Hari ini, seharusnya menjadi hari biasa saja seperti hari-hari sebelumnya. Hingga surat tanpa nama itu tiba di depan rumah ku.

Satu-satunya aktifitas yang selalu aku lakukan di pagi hari adalah menyirami bunga di taman yang mengelilingi rumah di tanah yang luas ini, bukan karena aku suka, hanya saja pernah suatu pagi aku melihat bunga yang layu, dan aku baru menyadari wujudnya yang layu sangat tidak nyaman dipandang kedua mataku, sejak saat itu aku bertekad untuk terus menyirami bunga dan tanaman di halaman rumah agar terus hidup, demi kenyamanan pandanganku sendiri, dan kemudian ini menjadi kebiasaan ku bahkan setelah tukang kebun datang untuk mengurus halaman dan taman rumah ini.

Aku sedang menyirami si kuning Marigold, sejujurnya aku tidak terlalu menyukainya, karna dia terlihat terlalu percaya diri, nyaris sombong dengan warna kuningnya yang terang itu, sama seperti si angkuh Matahari, agak menyebalkan, namun aku tetap menyiraminya dan membiarkan dia tumbuh, bagaimana-pun ini lebih baik dari mendapati bunga layu di halaman ku.
Dari kejauhan tukang kebun paruh baya yang bekerja di rumah besar ini tergopoh-gopoh berlari menghampiriku.
“Non, anu… tadi saya lihat ini di kotak surat.”, ia menyerahkan sebuah amplop polos berwarna putih gading ke arah ku, warnanya sama seperti warna gaun tidur klasik yang saat ini aku kenakan, “Tapi tidak ada nama atau alamat pengirimnya. Kalau saya tidak sedang bersihkan tembok luar pagar, mungkin saya tidak akan lihat ada surat.”, sambung tukang kebun, aku mengambil surat dari tangannya dan membolak-balik amplop itu, ada wangi seperti cokelat dari amplop tersebut, tidak ada tulisan selain tanggal dan bulan, “30/07” yang ditulis dengan tinta hitam.
Aku mengangguk pelan, “Baiklah, terima kasih... tolong lanjutkan ya pak.”, kuserahkan selang tanaman kepada tukang kebun dan kembali kedalam rumah.

Aku duduk di ruang tengah, memandangi dan menimang amplop itu diatas telapak tangan ku. Aneh, seberapa-pun keras aku berpikir sepertinya tidak ada seorang yang akan mengirimkan surat kepada ku, aku juga tidak menunggu balasan surat dari siapa-pun. Dan lagi, wangi cokelat ini, sepertinya tidak asing bagi ku, namun aku tidak bisa mengingat di mana dan kapan aku pernah melihatnya.
Aku membuka amplop itu, di dalamnya terdapat secarik kertas yang berwarna senada dengan amplop yang membungkusnya, dan juga beraroma cokelat, sangat, sangat familiar.

Perlahan aku membaca surat pendek yang ditulis dengan tinta hitam itu.

“Teruntuk, Athalia……”

Tunggu, surat ini memang di tujukan kepadaku. Aku memutuskan untuk melanjutkan membaca.

“Kala kaki-kaki panjang menghentak di muka-muka tanah
Makhluk-makhluk bumi serentak mendambakan pelukan malaikat-malaikat hati
Yang terkasih selalu akan tiba menjinakkan amarah
Athalia, namanya sungguh tertulis di atas langit untuk cinta kasih abadi

30/07”

Sebuah surat beraroma cokelat yang hanya bertuliskan sebuah sajak singkat, mengusik pikiran ku sepanjang hari. Kubaca sajak itu berulang kali, seperti sebuah mantera, malam itu aku tertidur pulas. Dan ketika ku buka kedua mataku, sang Matahari yang angkuh itu menyapa ku, ia seolah berkata padaku dengan nada penuh kemenangan.
“Athalia, maka kini kau terbangun…”, masih sama menyebalkannya, namun aku tidak keberatan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ku nikmati hangat sinar matahari pagi yang menyentuh kulit pucat ku.
Dengan rasa yang berbeda, seperti setengah melayang, dengan cepat dan bersemangat aku menuruni tangga. Dua pekerja yang selalu menyambut pagi buta ku, menatap ku dengan wajah khawatir. Aku sang Rembulan Pagi, menyapanya saat langit telah diterangi sinar matahari.
“Hmm…. Selamat.. pagi…”, ucap ku pada mereka.
Seolah tidak pecaya dengan apa yang mereka dengar, berkali-kali mereka bertukar pandang satu sama lain, untuk memastikan bahwa yang berdiri dihadapan mereka bukanlah ilusi, atau bahwa mereka tidak sedang bermimpi.
***
Setiap malam, kini benar ku baca sepotong sajak dari surat beraroma cokelat itu, berkali-kali. Seolah setiap kali ku mulai, itu adalah sajak yang belum pernah aku baca sebelumnya. Entah apa makna dibalik kata demi kata itu. Tak pernah benar-benar ku pusingkan. Yang aku tahu, ada kedamaian yang aku rasakan setiap kali aku selesai membacanya. Wangi cokelat yang sangat familiar, kini juga menempel erat pada selimut ku, mungkinkah wangi ini yang menenangkan ku? Atau benar sepotong sajak itu adalah mantera tidur yang ditulis oleh seorang penyihir? Entah. Kubiarkan imajinasiku mengikutiku hingga aku terlelap.

Pagi berikutnya, aku semakin menikmati detik-detik sinar matahari menyelinap dari celah tirai jendela dan menyentuh kulit wajahku, hangat. Aku kembali terbangun dari tidur tanpa mimpi.

Kali ini aku mendengar ketukan dari pintu kamar ku.
“Non, sudah bangun?”, suara berat dari tukang kebun terdengar dari balik pintu. Aku bangkit dari tempat tidur ku dan membukakan pintu.
“Ya pak?”, tanyaku sambil mengusap kedua mata. Disaat yang bersamaan aku mencium wangi  cokelat. Seketika mataku membulat.
“Ini Non, ada lagi di kotak pos..”, tukang kebun menyodorkan amplop putih gading kepadaku, amplop yang sama, wangi yang sama, masih tidak ada nama dan alamat pengirim, lagi-lagi hanya tanggal yang tertera.
Dengan cepat aku ambil amplop itu dari tangan tukang kebun. Dan tersenyum.
“Terima kasih pak…”
Hati-hati aku membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalamnya. Lagi, sepotong sajak. Ku baca sajak pendek itu perlahan, seakan-akan tidak ingin ku akhiri.

“Teruntuk, Athalia……
Nama yang di ucap malaikat langit bagai doa
Athalia, betapa malam mencitainya
Hingga inginkan ia tetap terjaga
Dengan begitu, gelapnya akan terus ia bawa
Pada malam dimana ia pejamkan mata
Saat itulah dunia berdendang bahagia
07/08”


Sejak saat itu, surat-surat dengan amplop berwarna dan wangi yang sama terus berdatangan, berkat potongan-potongan sajak yang ia tuliskan perlahan aku pun berdamai dengan malam, dan mulai mencintai pagi.

Hingga suatu hari aku tidak dapat berhenti memikirkan dia sang penulis sajak. Ku putuskan untuk menulis balasan untuk surat-suratnya.

Aku pergi ke ruang belajar milik mendiang ayah, ruangan yang dulu menjadi tempat favorit ku untuk menghabiskan waktu membaca buku bersamanya, namun kini tak pernah lagi aku masuki sejak saat kecelakaan 10 tahun silam. Hanya pengurus rumah yang rutin memasuki ruangan ini untuk membersihkannya dari debu dan sarang laba-laba. Aku memegang kenop pintu dan membuka nya perlahan, beberapa saat aku hanya terdiam di depan pintu, tak bergeming, berusaha menyesuaikan diri, ada rasa sesak luar biasa yang menjalar kerongga dada, namun segera ku lawan rasa itu dan dengan langkah ragu-ragu aku berjalan mendekati meja kerja ayah, disana aku temukan secarik kertas dan pena. Nampaknya memang aku masih butuh banyak waktu untuk kembali membiasakan diri dengan ruangan itu, kuputuskan untuk keluar dari sana, kembali ke kamar ku.
Disana aku mulai menulis beberapa bait sajak.

“Teruntuk, .……”
Tangan ku berhenti sejenak, dan merenung... benar bagaimana aku tuliskan teruntuk siapa, jika aku saja tidak tahu namanya.
Namun ku lanjutkan saja gerakkan tangan ku, membiarkannya beriringan bersama hati ku.

“Teruntuk, Sebuah Nama……
Suara yang tak pernah kudengar namun kurindukan bahkan di dalam tidurku
Ku serukan sebuah nama, nama yang tak pernah terucap dari bibirku
Tak ada jawaban, hanya gema menyedihkan yang kembali padaku
Aku melihat diriku memanggil pilu namamu, sebuah nama yang tidak pernah aku tahu
30/08”

Aku pergi keluar, menuju kotak pos yang berdiri di depan gerbang rumah. Wujud nya yang lusuh cukup menceritakan betapa tidak seorang pun pernah menitipkan pesan kepadanya. Namun, mungkin belakangan ini dia tidak terlalu kesepian, semenjak terus datangnya surat - surat beraroma  coklat itu.
Sedikit ku seka bagian atas kotak surat dengan ujung baju hangat ku, sebelum ku masukkan surat yang telah ku tulis. Jika dia datang sendiri untuk menaruh surat-surat itu, maka aku yakin surat ini akan sampai kepadanya.
“Jaga suratku hingga dia menjemputnya, seperti selama ini kamu dengan baik menjaga surat-suratnya hingga sampai kepadaku.”, bisikku pada kotak surat lusuh itu.

Setiap pagi aku turun dan berdiri di depan gerbang. Menunggu seseorang mendekati kotak surat itu. Tukang kebun sesekali menemani ku, namun aku minta ia untuk melanjutkan saja pekerjaannya agar bisa segera beristirahat.

Hari ke tiga, surat balasan ku masih tersimpan didalam kotak surat, tak tersentuh. Hingga pagi hari berikutnya, dari balik jendela kamar aku melihat seseorang, seorang laki-laki jangkung berambut cokelat gelap berdiri didepan gerbang, ditangannya terdapat dua buah amplop, satu milikku, dan satu lagi amplop putih gading yang sangat tidak asing. Aku bergegas turun untuk menghampirinya secepat mungkin. Namun, rumah ini terlalu besar, hal yang berkali-kali aku sesali, kaki-kaki ku yang tidak cukup panjang, tidak mampu mengimbangi luasnya rumah ini. Saat aku tiba di depan gerbang, laki-laki itu sudah tidak ada.
Dia seperti tahu dan hafal, waktu-waktu dimana tidak akan ada orang disekitar halaman depan, tukang kebun akan sibuk bekerja di halaman belakang, dan pada waktu itu-pun aku sudah kembali ke dalam rumah setelah selesai menyirami bunga-bunga. Hingga tidak akan ada yang menyadari kedatangannya untuk menaruh surat-suratnya.
Dengan kesal aku menendang kerikil tidak bersalah, yang mengagetkan kupu-kupu yang juga tak bersalah yang sedang beristirahat di atas kelopak si ungu Bugenvil.
Aku membuka gerbang dan memeriksa isi kotak surat. Aku termenung, kuperiksa beberapa kali untuk memastikan. Tidak ada. Tidak ada surat didalamnya. Aku yakin, dia memegang dua buah surat, satu milikku dan satu miliknya. Mengapa? Mengapa ia tidak meninggalkan surat miliknya?
Aku menatap si ungu Bugenvil, seolah memaksanya untuk memberiku sebuah alasan.

Malam itu, aku kembali terjaga. Membaca ulang sajak-sajak yang ia tulis kini tidak membantu ku untuk tertidur. Seolah mantera yang tersemat di dalam sajak-sajak itu menghilang, seperti sebuah dongeng, dimana kekuatan mantera akan menghilang jika ada syarat yang dilanggar, tapi, syarat apa? Apakah karena aku telah melihat sosoknya sekilas?

Hentikan! Jangan bodoh, aku tidak sedang hidup dalam dunia dongeng!

Aku buka jendela kamar ku dan membiarkan angin malam menerobos masuk kedalam kamar. Aku menengadah ke langit malam dan ku dapati bulan sabit sedang menatapku dengan tatapan kasihan. “Apa akan kau biarkan Matahari nanti kembali menyebut mu Rembulan Pagi? Aku pikir kau sudah muak menyanding nama ku.”, dengan keras aku menghela napas lalu menatap sinis ke arahnya, “Kalau kau begitu peduli, maka beri tahu aku mengapa dia pergi begitu saja?!”, seperti enggan menanggapi kekesalan ku, ia bersembunyi dibalik awan.

Kubiarkan jendela kamarku terbuka hingga subuh datang, aku kembali mengungguli Matahari, bukan seseuatu yang ingin ku banggakan. Aku bangkit dari tempat tidur ku dan melangkah menuruni tangga. Tidak ada siapa-siapa. Dua pekerja rumah ini nampaknya mulai terbiasa untuk beraktifitas saat langit mulai terang, aku tidak menyalahkan mereka. Aku duduk di sofa panjang ruang tengah yang terasa dua kali lebih luas pagi itu, sepi yang memekakkan telinga. Aku rapatkan lututku kedada dan menutup kedua telinga dan mataku.
Caraku mengatasi kesunyian.
Entah berapa lama aku berdiam dalam posisi demikian, hingga sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki mendekat.
“Non…?”, suara pengurus rumah menyadarkan aku. Aku mengangkat kepala ku. Kedua mata pengurus rumah menyiratkan kebingungan dan kekhawatiran, “Non Thalia sedang apa disini?”, tanyanya, namun tak aku jawab. Aku hanya terdiam, pandangan ku terpaku pada semburat oranye yang menyelinap masuk dari sela-sela pintu yang kemudian terpantul di lantai mengkilat ruang tengah.
“Non? Non baik-baik saja?”, tanya pengurus rumah yang kesekian kalinya. Aku mengalihkan pandanganku kepadanya, dan menggeleng lemah.
“Saya akan seduhkan teh chamomile, Non kembalilah ke kamar.”, aku mengangguk dan kembali ke kamar, namun aku ingat aku tidak menutup jendela semalam, dan aku malas untuk berhadapan dengan matahari melalui jendela kamar ku. Dia pasti akan mencemooh ku dengan angkuhnya.
“Bi, bisa tolong ke kamar saya duluan? Saya lupa tutup jendelanya semalam.”, pengurus rumah dengan segera pergi ke kamar ku dan menutup jendela, aku mengikutinya dari belakang.

Tidak ada surat yang datang setelah hari itu. Aku kembali tidak bersahabat dengan malam, dan menyesali datangnya pagi. Sajak-sajak yang memberiku ketenangan, dan harapan, kini membacanya ulang hanya menorehkan luka baru pada diriku.

Setelah berminggu-minggu lamanya, tukang kebun kembali tergopoh-gopoh menghampiriku yang sedang menyirami bunga di taman belakang dengan sepucuk surat ditangannya.

“Non…”, tanpa berkata apapun ia menyodorkan surat itu kepadaku, dengan warna amplop yang sama dan wangi cokelat yang sangat familiar. Dengan ragu aku menerimanya. Namun kali ini, tertulis sebuah nama di amplop itu, nama yang sepertinya sangat aku kenal. Nama yang tersimpan disuatu tempat dalam ingatan ku, namun menolak untuk aku bawa keluar.

Tukang kebun mengatakan sesuatu namun aku tidak dapat mendengarnya karena seketika kepala ku terasa ingin meledak, seperti potongan-potongan film pendek bergantian terlintas dikepalaku, sebuah suara yang sangat aku kenal, sepasang mata yang aku kenal, sebuah senyum, sebuah nama yang terucap dari bibirku.

Aku terhuyung, kehilangan keseimbangan ku, namun tukang kebun dengan sigap memegang lengan ku, “Non?! Non tidak apa-apa?”, aku mengangguk cepat, kepalaku masih sangat sakit, aku masih tidak mengerti akan potongan-potongan ingatan yang baru saja terlintas di kepalaku.

“Anu non… Surat nya ada yang antar Non. Yang antar sepertinya masih ada di depan gerbang.”, mendengar hal itu, aku segera berlari ke arah gerbang rumah, entah kekuatan dari mana, aku berlari dengan sangat cepat, aku melangkah selebar mungkin, seolah kaki-kaki ku memanjang beberapa senti, tidak aku pedulikan denyut dikepala ku. Kali ini tidak akan kubiarkan dia pergi begitu saja.
Siapa dia? Apakah kami saling kenal? Siapa??

Ketika jarakku semakin dekat dengan pintu gerbang, aku dapat menangkap sosok jangkung berambut cokelat gelap berdiri mematung dari kejauhan, matanya tak lepas memperhatikan aku yang berlari menghampirinya.

Semakin lama semakin jelas raut wajahnya. Wajah tirus, dibalik kacamata yang bertopang pada tulang hidung yang tinggi, aku bisa menangkap tatapan dari dua mata yang lembut namun juga seolah menyimpan kesedihan yang luar biasa .

Aku menghentikan langkah ku, kini jarak kami cukup dekat dengan hanya dipisahkan pintu gerbang, wajahnya sangat familiar. Ada bekas luka dipipi kirinya, dan luka itu seolah memaksa masuk kedalam kepala ku untuk membawa segala ingatan yang aku miliki tentangnya. Aku merasakan getaran aneh menjalar di sekujur tubuh ku, ku bisikkan nama kepada laki-laki dihadapan ku, yang aku yakini adalah sang pemilik nama. Bisikan pelan, namun cukup untuk sampai di telinganya, mendengarku menyebut namanya, ia tertunduk. Matanya berkaca-kaca, ia mengangguk pelan. Beberapa detik setelahnya, aku merasa bumi mengerahkan seluruh gravitasinya untuk menarikku jauh kedasar jurang yang tak berbatas. Cepat dan kencang.

***


-10 tahun yang lalu-

“Thaliaaa…. sudah siap nak?”, teriak seorang wanita berusia 35 tahun sibuk memasukkan beberapa kotak-kotak berisi makan kedalam keranjang piknik.
“Iya bundaaa sebentar lagiii…”, sahut seorang gadis belia 15 tahun yang masih memilih kaus kaki yang akan dia kenakan.

“Ayah, coba tolong cek Thalia sedang apa… minta dia untuk segera turun.”, wanita itu masih sibuk menata beberapa barang keperluan piknik keluarga.
Laki-laki bertubuh tegap yang terlihat hanya beberapa tahun lebih tua darinya, melakukan apa yang di minta tanpa berkata apapun.

“Ayyara Athalia… sedang apa nak? Dari tadi Bundamu sudah memanggil-manggil…”
“Yah, lebih bagus mana? Biru muda atau merah muda?”, Athalia menunjukkan dua kaus kaki biru muda dan merah muda kepada ayahnya.
“Hmm…. merah muda…?”, jawab ayahnya.
“Baiklah~!”, Athalia mengembalikan kaus kaki berwarna merah muda ke laci pakaiannya, dan segera mengenakan kaus kaki biru muda. Lalu dengan jenaka tersenyum meledek kepada sang ayah. Laki-laki itu memutar bola matanya, jengkel, “Sudah… lekas turun~”.

Keluarga kecil itu dengan bersemangat keluar dari rumah dan memasukkan barang-barang keperluan piknik kedalam bagasi mobil. Tidak lama seorang anak laki-laki seusia Athalia berlari-lari kecil menghampiri mereka.
“Kau datang sedetik lebih telat lagi, kami akan pergi tanpa mu!”, Seru Athalia sambil meninju pelan bahu teman laki-lakinya itu.
“Mana mungkin. Kau pikir siapa yang merengek meminta ku untuk ikut serta?”, ejek anak laki-laki itu.
“Maaf saya telat. Tadi tiba-tiba disuruh antar pesanan bubuk cocoa oleh Ayah.”, jelas anak laki-laki itu kepada kedua orang tua Athalia dengan senyum khas, menunjukkan gigi gingsulnya.
“Tidak apa, Ayahmu sehat?”, tanya Bunda Athalia kepadanya.
“Sehat Tante”, jawabnya masih sambil tersenyum.
“Syukur kalau begitu, ayo cepat masuk.. nanti kesiangan, panas disana.”
Sebelum masuk kedalam mobil, Athalia menarik lengan kemeja teman laki-lakinya, dan menengadahkan telapak tangannya, menagih sesuatu.
Anak laki-laki itu paham bahasa tubuh Athalia, dari dalam tas selempangnya dikeluarkannya bungkusan plastik penuh dengan cokelat yang dibungkus dengan kertas alumunium kuning, dan memberikannya kepada Athalia. “Ini dia hasil selundupan dari dapur pemilik kebun cokelat~”, desis Athalia.
“Kalau ketahuan Bunda mu, jangan seret aku. Cukup sehari kau makan dua!”, tegasnya.
“Iyaa”, sahut Athalia setengah tak peduli sambil memasukkan bungkusan plastik itu kedalam tasnya. Anak laki-laki itu hanya tersenyum melihat tingkah Athalia, gadis yang sudah lama ia sukai lebih dari sekedar teman.

Hari itu, mereka berempat menghabiskan waktu piknik yang sangat ceria dalam rangka memperingati hari ulang tahun pernikahan orang tua Athalia. Tidak ada yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi hari paling memilukan untuk Athalia.

Mereka dalam perjalanan pulang ketika mobil yang dikendarai Athalia, orang tuanya dan teman laki-lakinya itu mengalami kebocoran ban. Ayah Athalia menepikan mobil di pinggir jalan, hari sudah mulai gelap.

“Ayah bawa ban pengganti kan?”, tanya Bunda Athalia
“Tentu..”, Jawab sang Ayah, ia menepuk punggung teman laki-laki Athalia, dan menunjuk bagasi, “Bantu saya ganti ban bisa kan?”
“Bisa Om”, jawab anak laki-laki itu sambil mengikuti Ayah Athalia.
Saat itu Athalia yang sedang tertidur didalam mobil terbangun, ia menurunkan kaca jendela dan bertanya pada ibunya yang bediri di samping mobil, “Ada apa Bunda?”
“Bannya bocor…..”, jawab Bundanya, sementara Ayah Athalia dan teman laki-lakinya sedang sibuk melepas ban yang rusak.

“Tolong pegang…”, Ayah Athalia yang sedang berjongkok memberikan kunci roda kepada teman laki-laki Athalia, namun tanpa sadar ia menerimanya dengan tangan kanan yang ia gunakan untuk menjaga ban, ban yang terlepas dari genggaman nya berguling ke arah jalan besar, menyadarinya anak laki-laki itu berlari mengejar ban tersebut.
Sementara dari arah yang berlawanan, tanpa ia sadari ada sebuah truk yang melintas. Bunda Athalia yang sedang berdiri di sisi mobil berlari kearah anak laki-laki tersebut untuk menariknya kembali ke sisi jalan, namun teman laki-laki putrinya itu sudah berlari ke tengah jalan, menyadari Istrinya dalam bahaya, Ayah Athalia dengan panik mengejarnya, Bunda Athalia berhasil mendorong teman laki-laki Athalia ke seberang jalan, disaat yang bersamaan Ayah Athalia meraih istrinya kedalam dekapannya, namun mereka tidak cukup cepat untuk menghindar dari laju truk, keduanya tewas di tempat. Semua terjadi begitu cepat.

Setelah hari itu, Athalia mengalami goncangan jiwa yang sangat berat. Dia akan menjadi histeris secara tiba-tiba. Terlebih setiap kali dia melihat teman laki-lakinya atau mendengar namanya. Hingga akhirnya Athalia menolak untuk mengingat sosok anak laki-laki itu. Pada suatu pagi Athalia terbangun dengan seluruh ingatan tentang teman laki-lakinya itu yang terkunci jauh didalam alam bawah sadarnya. Semenjak hari itu, tidak ada teriakan, tidak ada tangisan, pun tidak ada tawa dalam hari-hari Athalia.
***


Aku membuka kedua mataku, mimpi buruk panjang yang lama telah aku kunci dan kubur jauh dalam ingatanku kembali muncul. Mataku terasa panas, untuk pertama kalinya setelah 10 tahun, kedua pipiku basah oleh bulir-bulir air mata. Aku terbaring diatas kasur, rupanya aku tak sadarkan diri dan seseorang memindahkan ku kesini. Aku hanya terbaring, tak bergeming menatap langit-langit kamar. Aku terisak dalam diam. Dunia ku runtuh kembali.
Kini sepenuhnya hadir semua ingatan dari masa lalu. Dan aku tidak tahu bagaimana membendungnya. Ingin ku hentikan namun sia-sia. Rasa sakit di dada dan sekujur tubuh terus bertambah setiap detik tarikan napas ku. Ku tutup kedua mataku dengan lengan, “Ayah… Bunda… Thalia rindu..” lirih ku disela isakan tangis.

Beberapa hari berselang setelah pertemuan ku dengannya, aku terduduk diatas tempat tidurku, ditangaku ada sepucuk surat yang ia berikan padaku hari itu. Cukup lama aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk membukanya. Apakah itu sajak yang aku yakin tidak mampu lagi menenangkan diriku, atau apakah itu berisi bagian dari ingatan lain yang tidak aku inginkan, entah, aku ragu keduanya akan membuatku menjadi lebih baik.

Matahari mengintip dari balik tirai kamar yang enggan aku buka sejak hari itu, masih sama dengan angkuh nya, menatangku melawan takut ku.

Perlahan ku buka amplop putih gading itu, wangi coklat dari kertas surat yang biasanya membuat ku tenang, kini membuatku sesak.

Aku mulai membaca dalam diam…






“Teruntuk, Athaliya……

Seorang gadis berdiri dihadapanku tak bergeming
Kepalanya tertunduk namun ia tak menangis
Ku coba gapai dirinya dengan lengan-lengan ku yang sedih
Namun ia berlari pergi
Kini hanya ada diriku yang memeluk kehampaan yang kuciptakan sendiri

Athalia, nama yang ku ucap bukan lagi bagian dari doa, namun kini menjadi doa itu sendiri. Nama yang kusebut setiap kali kebencian ku atas diriku menggerogoti tiap-tiap jengkal dari tubuhku.
Athalia, nama yang melekat dibenakku lebih erat dari nama ku sendiri.
Athalia, melihat mu tersenyum kepada mentari setelah membaca potongan sajak yang ku tulis untukmu, sejenak membuat ku terlupa, bahwa di dunia ini, aku lah yang paling tidak pantas untuk menghiburmu.
Keegoisanku hampir menghancurkan mu sekali lagi
Maafkan kelancanganku, walau kata maaf tidak akan pernah cukup, dan ketahuilah aku adalah seseorang yang tidak pantas menerima pengampunan dari mu.

Ketika pekatnya kegelapan malam menjadi semakin panjang dan tak kunjung usai
Dan dinginnya , membekukan dinding-dinding kamar
dan setiap kenangan dalam genggamanmu
Ketika itu Athalia, tak akan kau temukan diriku lagi
Maka, berjalanlah hingga ke penghujung fajar
dan biarkan mentari pagi menyapamu

-- / --”



Malam itu, tidak ada air mata, sunyi.
Sang Rembulan Pagi kini kembali.
Continue reading Teruntuk Sebuah Nama, Athalia

LN - Biar Aku yang Jadi Telingamu!



BIAR AKU YANG JADI TELINGAMU!
Genre : Slice of Life. Romance,
Writer : Arya


Prologue

Hari yang cerah, langit yang biru rumput yang hijau, udara yang segar dan angin yang sepoi ini menjadi semangat baru ditengah suasana asing ketika masuk perkuliahan. Aku melihat gedung yang tinggi yang terlihat sangat terawat, begitu juga orang-orang yang berjalan dengan rapih mulai dari gebang hingga ke dalam gedung tersebut. Aku merasa akan terjadi hal-hal bagus hari ini. Hari ini setelah penyambutan mahasiswa baru, aku mencoba bergabung dengan sebuah klub kegiatan ekstrakulikuler yang aku inginkan. Namun perasaan akan terjadi hal-hal bagus hari ini pun berubah seketika saat keluar dari ruangan. Aku melihat sekerumunan orang yang berjalan kesana kemari seperti semut ketika membawa makanan ke sarangnya. Sungguh banyak dan membuat pusing untuk menatap dan berjalan ke depan hingga aku harus menundukan kepala dan menjaga keseimbangan badanku agar tak terjatuh dengan karena tersenggol lalu-lalang orang sebanyak ini. Aku tak menyangka akan sebanyak ini di hari pertama orang yang datang, lebih tak menyangka semua orang berjalan dengan cepat dan antusias seperti ini.  Mungkin mereka juga ingin mengunjungi klub yang mereka ingin masuki secepatnya, karena kudengar memang ada beberapa klub yang membatasi jumlah anggota baru untuk bergabung. Tiba-tiba aku mencium aroma rerumputan lagi, dan ternyata aku telah bebas dari kerumunan orang yang berlalu-lalang ketika mengangkat kepala ini. Memang disini adalah tempat yang baru ku kunjungi, tapi tetap saja, rasanya saat itu aku benar-benar tidak tau aku ada dimana.
Dengan membawa flyer aku menuju ruang yang tertera di flyer. Ketika tiba dan masuk awalnya kupikir ku salah membaca dan memahami map yang tertera di flyer, karena starting pointku pun aku tak tau dan karena ruangan yang kudatangi ini isinya berbeda sekali dengan klub yang ingin aku masuki. Aku kebingunan dan mempersilahkan diri untuk keluar ruangan lagi. Senior disana pun tak dapat membantu karena memang ia juga tak diinfokan tentang kemana ruangan penganti klub yang aku ingin masuki tersebut. Disarankannya aku untuk kembali melihat mading untuk melihat info yang terbaru. 
Singkat cerita, sepertinya aku tersesat, dan mungkin memang tersesat. Jengkel luar biasa, namun tak tau harus berlari kemana ataupun mengadu pada siapa. Suasana sudah menjadi sunyi senyap, semua orang seperti sudah menemukan ruangan yang mereka tuju masing-masing dan berdiam disana. Kecuali aku, yang masih berdiri dekat jendala, melihat sekitar dengan kebingunan kemana harus menuju. Ketika menundukan kepala sekali lagi untuk merenungkan dan memikirkan map yang tertera di flyer dan mencoba menemukan kemana arah mana kaki ini harus melangkah, ada seorang gadis lewati di belakang ku yang membuatku langsung membalikkan badan seketika berharap siapapun orang itu bisa membantuku keluar dari ketersesatan ini. “Permisi, boleh tanya ruang klub X dimana ya?” tanyaku dengan segera berharap mendapat jawaban secepatknya karena sudah tak tahan jika harus tersesat lagi. Namun ia mengabaikanku seperti acuh ada orang yang ia hampiri ini.  Permisi.. ku sapa lagi, sambil memperhatikan penampilannya yang ternyata tidak terlihat sedang menggunakan headset dan bertanya-tanya dalam hati, apa dia sengaja tidak menjawab? Siapa dia, apakah senior? Kenapa sombong sekali rasanya. “permisi~” sekali lagi kucoba memanggil sembari ia berjalan tanpa memelankan langkahnya. Sejenak tak terpikir untukku mencari ruangan, hanya ingin tau siapa ia dan mengapa sangat abai ketika ada seseorang yang benar-benar di sampingnya mencoba menanyakan sesuatu.
Ia hanya berjalan tanpa memperdulikan apapun hingga jarak beberapa langkah antara kami, kemudian ia menoleh ke belakang dan melihat ke arahku dengan wajah yang entah tampak biasa atau kebingungan karena ada seorang pria yang menatapnya. Dengan gelagat seperti takut akan tatapanku, ia melangkahkan kakinya berjalan lebih cepat sampai tak terlihat lagi olehku, dan mengembalkanku ke dalam kebingungan yang sebelumnya.

Chapter I
Meskipun terlambat akhirnya aku menemukan ruangan klub yang ingin ku masuki. Dan di dalam ternyata sudah berlangsung penyambutan kembali oleh ketua klub. “Semoga kita dapat menjalani tahun yang baik ini dengan hal-hal yang baik” itu adalah kata pentup sambutan ketua klub yang hanya bisa ku tangkap. “Luar biasa! Luar biasa!” moderator yang mungkin senior memberikan testimoni sebelum mempersilahkan ketua klub untuk kembali duduk. Sejenak setelah testimoni tersebut senior ini kemudian memanggil salah satu peserta baru untuk maju ke depan untuk perkenalan sebagai perwakilan peserta baru.
Seorang gadis dengan penampilan yang tidak terasa asing maju ke depan. “yang benar saja” di kepalaku, aku terkaget kaget karena ternyata tidak lain yang gadis itu muncul lagi. Ya gadis itu. Membuatku teringat semua kejengkelanku beberapa saat sebelumnya. Disaat kebingungan seperti menjadi anak tersesat ia menambahkannya dengan mengabaikanku. Gadis itu berdiri di depan ruangan menghadap semua yang ada di ruangan tersebut. Suasana sungguh menjadi hening seketika. Entah karena semua takjub akan parasnya, atau menunggu ia berbicara, atau mungkin hanya bosan akan pertemuan ini dan memilih untuk diam. Satu persatu gadis itu membalas seluruh tatapan yang mungkin aku takkan mampu melakukannya. Hingga akhirnya ia membuat seisi ruangan merubah duduknya dan mulai memperhatikan ke depan dengan baik-baik, ia membuka sebuah buku gambar besar yang ia bawa sedari tadi.
Tulisan pertama yang muncul adalah “Aku tidak bisa mendengar”. Bukan hanya perasaan dan telingaku, di ruangan yang tenang itu ternyata memang berubah menjadi ruangan yang riuh dengan suara tarikan napas yang panjang. Masing-masing sepertinya sangat terkejut dengan tulisan itu. Khususnya aku yang membawa rasa jengkel ini dan sekantung pertanyaan untuk gadis itu sedari tadi. Rasa jengkel dan semua pertanyaan menjadi terjawab dengan tulisan itu. Rasa bersalah mulai berdatangan, karena akhirnya aku mengerti tentang mengapa sikapnya seperti itu sebelumnya. Sedikit rasa lega juga datang karena, rasa jengkel dan pertanyaanku tidak pernah keluar dari mulutku. Setelah riuh berkurang ia membuka lembar selanjutnya, “Aku mencari Notetaker”. Kali ini bukan riuh suara napas panjang yang muncul namun suara bisik-bisik yang mempertanyakan istilah tersebut. “apa itu note-taker?” bibirku ikut bergumam mengikuti suasana ruangan dengan suara sangat kecil. Tidak lama ia membuka lagi lembar selanjutnya untuk berkenalan dan sebagaimana normalnya saat orang berkenalan. Namun aku yang punya rasa penasaran lebih ini tidak sabar untuk mengetahui apa itu note-taker, dengan segera membuka smartphone untuk mencari di internet tentang istilah tersebut dan mengabaikan perkenalan dirinya.
Sehabis pertemuan ia bergegas kembali maju ke depan ruangan kemudian Ia membagikan selembaran kertas kepada setiap orang yang keluar dari ruangan tersebut. Aku pun termasuk membawa selebaran tersebut dan tanpa bas abasi bergegas menuju kantin untuk mengisi perutku yang sudah menahan rasa lapar sejak tadi. Sembari bersiap menyantap makananku, aku memperhatikan sekali lagi selebaran yang ia bagikan, isinya ternyata tentang jawaban dari apa yang aku pertanyakan dalam kepalaku sejak pertemuan tadi. Tertera diselembaran tersebut tentang apa itu Notetaker, dimana isitilah ini baru pertama kali kudengar.
Note-taker adalah penerjemah tertulis, dan dalam tanda kutip menggantikan telinga orang yang mempunyai gangguan pendengaran yang parah.Dengan kata lain, itu seperti penerjemah simultan yang mendengarkan kata-kata pembicara dan informasi suara di tempat, dan kemudian menuliskannya tanpa penundaan. Di universitas, pembuaan catatan jugan menggantikan telinga siswa dengan gangguan pendengara yang parah, dan pada saat yang sama, isi ceramah ditulis dan diterjemahkan secara simultan sesuai dengan ceramah pengajar. Bagi orang dengan gangguan pendengaran yang parah, melihat caratan kuliah sama dengan mendengar. Pencatatan akan memungkinkan orang tersebut untuk mendapatkan informasi dan berpartisipasi pada  saat yang sama dengan orang yang mempunyai pendengaran normal.

Chapter II
Di pertemuan selanjutnya yakni setelah break makan siang, pada tengah ceramah tidak sengaja mataku melirik seakan ingin memperhatikan seperti apa keadaan yang sebenernya berdasarkan selebaran yang ia bagikan. Ia terlihat menyipitkan matanya untuk melihat ke depan yang membuatku selintas berpikir jika penglihatannya kurang baik,namun setelah beberapa lirikan rasanya mustahil karena yang ia tulis sebelumnya masih teringat jelas “aku tidak bisa mendengar”. Cukup lambat untukku bisa merngeti ternyata yang dilakukan sebenrnya adalah, ia mencoba untuk membaca gerak bibir pembicara untuk bisa mengerti apa yang dibicaran dalam kelas. Sontak aku merasa terenyuh, ada rasa kagum karena melihatnya berusaha untuk mengerti, namun juga ada rasa ingin membantunya. Dalam perasaan terenyuh tersebut, tanpat sadar badanku bergerak, berdiri dan berjalan perlahan menuju kursi di sebelahnya yang sedari awal kosong. Entah apa yang dipikirkan orang sehingga tidak ada yang duduk disana, atau mungkin karena selebaran sebelumnya juga yang membuat orang merasa tak sanggup untuk menjadi note taker untuk membantunya. Dan aku adalah salah satu orang yang juga berpikir seperti itu. Semua pikiran semacam itu berlalu-lalang dengan cepatnya di dalam kepalaku sampai tiba aku duduk di kursi sebelahnya.
Pulpen yang terhempas karena keluarnya perasaan jengkelnya karena mungkin sulit untuk mengikuti pembicaraan, berhenti bergulir bersamaan disaat aku duduk mencoba duduk di sebelahnya. Ia tanpak terjekut namun juga raut wajahnya seperti berbicara bahwa ia merasa lega karena ada yang datang dan sedikit berharap akan ada yang menjadi note-taker untuknya. Tanpa berkata apapun, setelah menempatkan diriku duduk di sebelahnya, aku mengambil pulpennya dan menggeser sedikit buku tulisnya untuk ku coba tulis apa yang dibacaran di ruangan. Namun, walau belum ku tulis satu katapun, diujung sudut mata ini terlihat ia bergerak merubah arah tubuhanya untuk mengarah padaku dan dengan gelagat yang aku pun tak paham arti dari gerakan itu, aku pun balas menoleh. Kali ini terlihat jelas ia tetap menggerakan tangannya sekali lagi, yang sepertinya ini adalah gerakan tubuh yang sama dengan yang sebelumnya tidak terlihat jelas olehku. Aku tak mengerti, sungguh tak mengerti. Keperhatikan sejenak apa yang ia ingin ungkapkan dan ternyata terlihat ia juga menggerakan bibirnya. Walau tidak terlalu jelas bagiku apa yang ia coba ucapkan. Saat kucoba meniru apa yang ia lakukan, dan gerakan tangannya, ia tersenyum manis sambal menggangguk, dan sekali lagi mecoba mengucapkan “te-ri-ma-ka-si”. Pada saat itu aku sungguh tidak mengerti apa yang ia ingin sampaikan hingga akhirnya iya menulisnya di catatannya “terima kasih”. Sungguh perasaan aneh bagiku ketika akhirnya mengerti gerakan tersebut. Aku sangat malu untuk pertama kalinya memperhatikan bibir seorang wanita seperti ini. Ditambah ternyata wajahnya sangat cantik terawat bak bidadari yang mungkin sedang turun dari surga jika dilihat dari jarak sedekat ini. Selain malu aku takut terlihat tidak sopan karena dibuatnya memperhatikan wajahnya seperti ini. Dan juga wajahnya yang belum berhenti tersenyum itu tetap menatap ke arahku, membuat lupa bahwa aku datang duduk disana untuk menulisanya apa yang dibicarakan di kelas untuknya.

Chapter III
Di jalan pulang sore itu, tanpa sadar aku mencoba menirukan gerakan “terimakasih” itu berkali-kali sehingga mungkin beberapa orang menatapku dengan penasaran apa yang aku lakukan. Membuka tangan namun merapatkan jari-jari seperi ingin hormat, menaruh tangan kiri agak di depan dada kanan lalu tanganku seperti hendak memotong jari tangan kiriku. Itu adalah cara bahasa isyarat yang artinya terima kasih. Aku sedikit merasa senang karena mempelajari hal baru, walau mungkin hanya satu kata terimakasih.
Sudah beberapa hari ini aku menjadi note-taker untuknya. Kali ini, bagiku ia terlihat semakin antusias untuk melihat apa yang kutulis tentang apa yang dibicarakan pada pertemuan kali ini. Ditengah pertemuan berlangsung, tidak sengaja aku melihat sesuatu ketika aku menulis untuknya. Sesuatu yang membuat detak jantungku berdegup lebih kencang. Mimik wajahnya, sungguh manis. Bukan pertama kalinya aku mencuri pandang untuk memperhatikan wajahnya ketika menulis, selain ingin melihatnya juga ingin memastikan bahwa apa yang ku tulis itu cukup jelas dan dapat ia pahami, karena ini memang pertama kalinya juga aku menjadi note-taker untuk seseorang, aku tidak mengerti apa yang sebenernya harus ku tulis dan bagaimana tulisan ku nantinya bisa cepat dimengerti dan tersampaikan maksudnya. Setelah kupikir-pikir menjadi note-taker ternyata membutuhkan kemampuan yang lebih baik dalam menyerap apa yang dibicarakan atau dalam tulisannya karena catatan tersebut akan menjadi pengganti pendengaran bukan? Terkadang aku merasa seperti orang hebat ketika memikirkan hal itu. Wakana pun pernah menulis tambahan di catatan yang kutulis, bahwa tulisnya bagus dan mudah dipahami untuknya. Ahh..semua ini jadi terasa menyenangkan.
Mimik wajahnya yang terlihat manis ketika antusias kali ini, membuatku terpana dan diam sejenak. Tanganku yang berhenti menulis disadarkan kembali olehnya dengan balas menolehku. “ada apa?” raut wajahnya heran melihatku, seketika aku mengelengkan kepalaku dan mencoba bersiap menulis kembali sambil mendengarkan yang dibicarakan pada pertemuan dengan memasang wajah tenang. Ia yang masih terheran pun melihat ke depan dan sekeliling mencoba mencari sebab mengapa aku berhenti menulis tadi. Sebenarnya di kepalaku ada banyak teriakan pertanyaan kenapa aku melihatnya seperti tadi??! Rasa malu dan takut dianggap tak sopan kembali mengelilingin pikiranku sampai akhir pertemuan.

Chapter IV
Seperti biasa ketika break makan siang aku berkumpul bersama temanku untuk duduk bersama baik makan, minum ataupun hanya bersenda gurau di kantin. Dari kejauhan, aku seperti melihat sosok yang kukenal di dekat jendela. Semakin kuperhatikan semakin ku ingin hanya menoleh kesana, dan benar saja, ia disana. Dengan kopi regular size sebelahnya, smartphone  dihadapannya yang samar samar telihat seperti sedang melakukan video call dengan seseorang. Ia terlihat menggerakkan tangannya berbagai posisi yang sekarang aku mengerti itu adalah bahasa isyarat, dan juga yang aku mengerti aku tidak mengerti sama sekali dengan semua gerakan tersebut. Karena yang baru kupelajari hanya bagaimana mengucapkan terimakasih dalam bahasa isyarat. Teman-temanku yang melihatku menjadi ikut penasaran kemana arah ku menoleh, dan menemukan hal sama y seperti yang aku lihat. Ketika ku beritahu bahwa aku mengenalnya, salah temanku mengusulkan untuk aku pergi kesana dan mengajaknya untuk bergabung dan duduk makan bersama. Aku menolak usulan tersebut dengan alasan aku akan mengajaknya lain kali saja. Karena aku merasa aku harus memberitahukan terlebih dahulu, aku takut ada yang merasa tidak enak hatinya, baik ia ataupun teman-temanku nantinya. Saat kembali menoleh ke arahnya, aku melihat betapa riangnya ia berbicara dengan sesorang di video call tersebut, yang aku tidak tau siapa ia. Entah darimana tiba-tiba timbul rasa cemburu ini, ingjn tau siapa yang bisa membuatnya tertawa seperti itu.
Ketika hari itu berakhir, perasaan yang tertinggal setelah pemandangan di kantin sebelumnya membuatku merasa ada yang sangat kurang hari itu, jika aku pulang mungkin aku tidak akah bisa tidur. aku mencoba menyempatkan diri ke perpustakaan untuk meminjam sebuah buku. Buku bahasa isyarat. Tidak terlalu mengerti alasan sebernya mengapa aku mencari dan mimnjam buku ini, namun aku tetapkan aku akan mempelajari bahasa isyarat. Kembalilah aku ke kampus dan menuju rooftop untuk membaca buku ini disana. Hanya beberapa halaman yang kubaca hari itu banyak yang baru aku mengerti, namun banyak pula yang semakin aku tidak mengerti tentang gerakan bahasa tubuh ini. Mungkin aku akan coba tanyakan padanya esok.

Bersambung...

Continue reading LN - Biar Aku yang Jadi Telingamu!

Langit Senja yang Menyelimuti Kota Sore Itu


Langit Senja yang Menyelimuti Kota Sore Itu

"Adiiiiittt... bangun nak! katanya kamu ada kuliah hari ini,” teriak Ibu yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Adit.
“iya... sebentar lagi bu," ucap Adit, lesu. Nampak kelopak matanya masih enggan terbuka meski jam sudah menunjukan pukul 9.
"Buru bangun nak!" Ibu masih terlihat gigih membangunkan Adit. Entah apa yang membuat anak semata wayangnya ini masih tertidur sampai jam segini, pikir Ibu. Yang jelas Ibu mulai merasa jika membangunkan anaknya lebih merepotkan daripada membuat sarapan untuk orang rumah.
“Iya... Adit bangun," Ucapnya sembari meraba-raba ponsel pintar miliknya untuk melihat jam, nampak indikator baterai ponsel yang sudah merah akibat dipakai bermain game online semalam suntuk.
"Kalo udah bangun buruan mandi! Bila udah nungguin tuh di depan."
"*Krekk" dengan segera Adit bangkit dan membuka pintu kamar. Ini merupakan rekor tercepatnya. Biasanya Ia membutuhkan waktu 5-10 menit untuk sekedar “mengumpulkan nyawa."
“Bukannya bangunin dari tadi Bu," Wajah Adit terlihat begitu segar untuk seseorang yang baru saja bangun tidur, seolah Ia tak perlu mandi untuk berangkat ke kampus.
“Emangnya kamu pikir Ibu dari tadi ngapain?! Ngobrol sama pintu?!" ucap Ibu yang terlihat mulai kesal.
“Emang kayaknya harus Bila yang bangunin kamu tiap pagi," sambungnya.
“Nah, kalo bisa sih gitu Bu" ucap Adit sedikit bergurau.
“Dasar kamu ini yaaahhh...!!" Ibu yang sedari tadi mulai kesal akhirnya melancarkan serangan “cubitan Ibu” yang tepat mengenai pinggang Adit.
“E-eehhh... iya Bu, becandaa.... ampuuun..." ucapnya, kesakitan.
“Udah buru sana mandi, Bila juga gak mau berangkat bareng sama orang yang bau iler!" seru Ibu.
“Emang bau iler yah?" timpal Adit.
“Eeeeehhh... pake nanya lagi! Mandi buruuu...!!" Perintah ibu yang kesal dengan tingkah anaknya ini.
“E-eh, Iya Buuu...” Adit yang tidak mau terkena serangan “cubitan Ibu” untuk kedua kalinya dengan segera mengambil handuk.
Seperti biasanya, setiap pagi di rumah itu tampak begitu ramai meski hanya di huni oleh dua orang. Ayahnya tengah bekerja di luar kota dan hanya sesekali pulang ke rumah. Tanpa tingkah laku Adit rumah itu mungkin akan benar-benar terasa sepi.
。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。
“Ini dia kebo baru bangun, jangan lupa ilernya dilap tuh" ucap Bila sembari menggoda teman masa kecilnya ini.
“Apa sih Bil... orang udah mandi juga," sahut Adit sembari mengendus-endus kemejanya yang sudah disemprotkan parfum milik ayahnya. Ia sangat jarang memakai parfum dan hanya memakainya untuk saat-saat tertentu saja, karena itulah Ia tidak punya parfum pribadi dan selalu menggunakan milik ayahnya.
"Tumben gak berangkat bareng sama Sita?” tanya Adit.
“Iya, kata Ibunya Sita lagi demam, jadi gak ngampus dulu untuk sementara.”
“Ya ampun, semoga cepet sembuh yah. Mana sebentar lagi UAS” Adit nampak mengkhawatirkan Sita yang merupakan teman akrab Bila sejak masuk ke perguruan tinggi. Mereka tinggal di komplek perumahan yang sama, sekitar 15 menit berjalan kaki dari rumah Adit.
"Yaudah yuk jalan!" ucap Adit yang tak ingin Bila terlambat masuk kelas karenanya.
Adit sudah kenal dengan Bila sejak mereka duduk di bangku Taman Kanak-kanak, mereka begitu akrab dan selalu terlihat bersama. Adit bahkan terlihat lebih sering bermain bersama Bila daripada dengan anak laki-laki seusianya. Mereka bersekolah di sekolah yang sama. Hingga akhirnya ketika lulus Sekolah Menengah Pertama, Bila terpaksa harus pindah rumah ikut bersama ayahnya yang ditugaskan di luar pulau selama 3 tahun.
Kala itu Adit begitu sedih karena harus berpisah dengan teman masa kecilnya. Namun meski terpisah jarak, komunikasi antara keduanya tetap terjalin, setidaknya untuk tahun pertama. Ditahun-tahun berikutnya mereka sudah jarang berkomunikasi, hanya sesekali berbalas pesan dihari-hari penting saja seperti ulang tahun dan hari raya Idul Fitri. Mungkin karena mereka sudah mendapatkan teman-teman baru dan disibukan dengan kegiatan masing-masing. Hingga akhirnya mereka berdua lulus dan akan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.
Adit senang bukan main ketika Ia mendengar kabar bahwa teman masa kecilnya itu akan kembali menghuni rumah lamanya, Ia semakin senang ketika tahu bahwa Bila akan masuk ke Perguruan Tinggi yang sama dengannya. Mungkin orang tua Bila tak ingin anaknya jauh, karena itulah Ia dimasukan ke Perguruan Tinggi terdekat. Sebuah pemikiran yang sama dengan orang tua Adit yang tak ingin anak semata wayangnya berada jauh dari rumah.
Mata Adit pun berbinar-binar ketika pertama kali melihat sosok Bila setelah 3 tahun berpisah, Bila tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik dan rupawan.
。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。
"Yaudah, Aku masuk kelas dulu yah," ujar Bila yang tengah memegangi handle pintu berniat akan masuk ke dalam kelas.
"Eh, tunggu Bil" ucap Adit, menghentikan pergerakan Bila yang tadi sudah hendak membuka pintu kelas.
“Iya, kenapa Dit?"
"Aku minjem catatan matkul sosiologi kamu dong, kamu kan udah matkulnya kemarin," sebetulnya Adit bisa saja meminjam catatan ke orang lain atau tidak perlu meminjam catatan sama sekali untuk matkul yang Ia anggap membosankan itu. Adit bukanlah tipe orang yang gemar mencatat saat pelajaran, bahkan buku bindernya pun nyaris bersih tak tergores meskipun Ia sudah berada di semester ke-2 nya. Hal itu Adit lakukan hanya agar Ia dapat mengembalikan buku catatannya kepada Bila setelah perkuliahan selesai, dengan begitu Ia dapat sekalian mengajak Bila untuk makan siang bersama. Rencana ini sudah Adit pikirkan ketika dalam perjalanan menuju kampus. Sebuah strategi yang cerdik untuk dapat akrab kembali dengan teman masa kecilnya itu. Wajar saja, semenjak masuk ke Perguruan Tinggi mereka tidak seakrab dulu. Bila lebih akrab dengan Sita yang sekelas dengannya.
“Oh, boleh. Tunggu ya..." Bila melepaskan tangannya dari handle pintu dan segera membuka tas miliknya.
"ini," Ia menyerahkan buku binder dengan sampul gambar menara eiffel.
"Nanti Kamu nyatetnya gimana?"
“Tenang, aku masih ada buku catatan lain," memang seperti yang diharapkan dari mahasiswi dengan IPK nyaris sempurna. Ia bahkan selalu siap untuk situasi seperti ini.
“Oke deh, thanks ya. Nanti habis kuliah Aku balikin" Adit menerima buku catatannya dan segera pergi ke kelas dengan ekspresi wajah seperti anak kecil yang diberi amplop berisi uang saat hari raya Idul Fitri.
Jam istirahat telah tiba, Adit yang sedari tadi menahan rasa kantuk di kelas akibat kurang tidur ditambah kuliah yang membosankan membuat rasa kantuknya semakin menjadi. Ia terlihat beberapa kali hampir tertidur, namun Adit nampaknya sangat menantikan bertemu dengan Bila setelah perkuliahan selesai membuatnya tetap terjaga dan tidak terbawa ke alam mimpi.
Setelah dosen meninggalkan kelas, Ia segera bergegas menuju kelas Bila. Melewati beberapa kerumunan mahasiswa sembari memegangi buku catatan itu. Langkahnya semakin cepat ketika dari kejauhan terlihat pintu kelas yang sudah terbuka. Dan benar saja, kelas itu sudah kosong. Tampak hanya ada dua orang mahasiswi yang tengah asyik mengobrol di dalam kelas. Ketika ditanya, ternyata Bila sudah pergi lebih dulu bersama dengan seorang pria bernama Fajar. Ya, seorang pria yang saat ini berpacaran dengan Bila. Pria yang sangat Ia benci karena telah merebut teman masa kecilnya.
Dengan masih memegang buku catatan, Adit berjalan menuju kantin setelah Ia bertanya kepada beberapa orang tentang keberadaan Bila. Terlihat dari jauh sepasang kekasih yang tengah bercanda gurau, begitu akrabnya hingga tak sadar beberapa orang tengah memperhatikan mereka, termasuk Adit. Entah hal apa yang mereka bicarakan hingga seakrab itu. Padahal sedari tadi Adit sudah menanti-nantikan hal tersebut. Kini Ia hanya bisa membayangkan dari kejauhan, membayangkan jika dirinya berada diposisi Fajar. Fajar memiliki hal yang tidak Adit miliki, popularitas, kekayaan, dan cinta.
Sudah sejak lama Adit memiliki perasaan ke Bila, perasaan itu muncul ketika mereka berdua terpisah. Wajar saja, ketika SMP mereka belum mengerti apa-apa soal perasaan. Ketika masuk perguruan tinggi, Adit akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan perasaan yang sudah Ia pendam selama bertahun-tahun. Namun nampaknya perasaan itu harus pupus, Bila tidak memiliki rasa yang sama seperti yang Adit rasakan. Bila menganggap Adit hanya sebatas teman masa kecil, tidak lebih. Karena hal ini lah komunikasi diantara keduanya menjadi canggung dan mereka menjadi tidak begitu akrab. Fajar memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Bila hingga akhirnya mereka berpacaran.
“Wanita mana yang tak tergiur oleh uang," pikir Adit. Wajahnya tertunduk sembari menghela nafas. Ketika itu lah Ia melihat buku catatan Bila dan segera tersadar. Ia harus mengembalikan bukunya dan segera pergi.
"Bila."
"Eh, Adit," Ucap Bila, menoleh ke arah Adit.
“Udah minjem bukunya?"
“Udah nih, thanks ya,” Ucap Adit sambil menyerahkan buku catatan milik Bila.
"Sama-sama."
"Kalo gitu aku pulang duluan yah." Nampaknya Adit tak ingin berlama-lama berada di dekat keduanya. Terutama Fajar. Lantas Ia segera melangkahkan kakinya, berjalan menjauh.
"Buru-buru banget Dit," ucap Fajar. Ucapannya ini membuat langkah Adit terhenti. Perlahan Adit berbalik ke arah belakang.
"Kok hari ini gak naik sepeda?"
Untuk waktu yang singkat Adit terlihat mengepalkan tangannya, dan perlahan membukanya kembali setelah Ia menghela nafas panjang. "Iya, lagi pengen jalan kaki aja, hehehe..." Ucap Adit sembari menyeringai dan tertawa yang terkesan dipaksakan. Tak ingin berlama-lama lagi, Adit berbalik badan dan berjalan secepat mungkin.
Adit harus merelakan harapannya untuk kembali dekat dengan Bila. Apa yang Ia alami pagi ini, berangkat ke kampus bersama tak lebih hanya sekedar ilusi semata. Bukannya tak paham, Adit paham betul dengan situasi yang Ia hadapi. hanya saja Ia tetap bertaruh pada secerca harapan yang masih tersimpan jauh dilubuk hatinya.
。。。。。。。。。。。。。。。。。。。。
Hari demi hari terus berlalu, komunikasi antara Adit dan Bila kian renggang bahkan mereka tak terlihat seperti teman masa kecil yang sudah saling mengenal cukup lama. Tak bedanya seperti orang asing. Disisi lain, hubungan Bila dengan Fajar kian dekat. Fajar bahkan sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Bila, dan Bila pun sudah beberapa kali di ajak main ke rumah serta villa pribadi milik keluarga Fajar. Namun karena kedua orang tua fajar yang sibuk bekerja, Bila dan Fajar lebih sering menghabiskan waktu berdua di rumah yang terbilang cukup luas.
Belakangan Adit mendengar desas-desus kabar yang kurang mengenakan dari keluarga Bila. Dikabarkan orangtuanya tengah menyiapkan surat perceraian. Ia mendengar kabar ini dari Ibunya. Keluarga Adit dengan keluarga Bila memang sedari dulu sudah akrab. Jadi untuk hal-hal seperti ini tentulah mereka tahu, tapi tidak bisa berbuat banyak. Karena hal inilah Bila tidak betah berada di rumah dan sering menghabiskan waktu di luar bersama Fajar.
Hingga suatu hari, Bila ingin bertemu dengan Adit di kantin. Ada sesuatu yang ingin Ia bicarakan dengan Adit, sesuatu yang sangat penting. Adit yang masih terheran dengan ajakan secara tiba-tiba dari teman masa kecilnya ini menunggu dengan raut muka yang bertanya-tanya. Hal penting apa yang ingin Bila bicarakan dengannya. Yang pasti Ia berharap bukan hal yang lebih menyedihkan dari perceraian orangtuanya. Karena Ia tak sanggup melihat Bila lebih sedih lagi dari ini.
Ketika keluar kelas dan hendak menuju kantin, Adit bertemu dengan Asep, seorang Office Boy yang bekerja di kampus yang juga sering menjadi teman main game bareng. Sejak awal masuk Perguruan Tinggi, Adit memang sudah akrab dengan Asep. Mungkin karena mereka memiliki hobi yang sama. Terlihat Asep yang tengah berdiri membuka kunci pintu gudang yang terletak tidak jauh dari kelas Adit. Gudang ini dipakai untuk menyimpan kursi-kursi dan meja yang telah rusak atau patah.
"Ngapain Sep?" tanya Adit yang penasaran dengan apa yang dilakukan Asep di gudang lantai 4.
"Eh, Adit. Ini Dit, disuruh bersih-bersih gudang" jawab Asep.
"Oh, gitu. Kirain lagi ngapain."
“Bawa Charger gak? Minjem dong. Gak kebawa di rumah soalnya." Sambungnya.
“Charger? Ada nih, pake aja." Asep menyerahkan charger miliknya.
"Oke, Minjem dulu yah."
"Iya, pake aja."
“Nanti malem mabar lagi gak?"
“Pasti dong."
"Yaudah, ke kantin dulu yah. Ditungguin orang. Makasih buat chargernya"
Adit melanjutkan perjalanannya ke kantin. Berharap Bila tidak sampai menunggu lama untuk dirinya. Namun ketika sampai di kantin, ternyata Bila belum tiba di sana. Karena Adit menjadi yang pertama tiba, Ia pun segera memilih meja. Mungkin saja apa yang Bila ingin bicarakan dengannya tidak ingin di dengar oleh banyak orang, oleh karenanya Adit memilih meja yang sedikit jauh dari keramaian. Gugup, senang, penasaran, Rupanya Adit harus rela menunggu kedatangan Bila dengan ditemani perasaan-perasaan yang bercampur aduk.
Hari itu entah mengapa suasana kantin terlihat lebih sepi dari biasanya. Dari kejauhan terlihat Bila berjalan mendekat, mukanya tampak serius seperti seseorang yang sudah membulatkan tekadnya. Terlepas dari banyak pertanyaan yang timbul dalam benak Adit, Ia begitu senang dapat berbicara kembali dengan Bila. Harapan-harapan kecil yang kerap kali Ia pertaruhkan belum sirna. Sekarang Ia hanya memikirkan seperti apa pembicaraan yang akan mereka lakukan nanti, bagaimana caranya agar obrolan terlihat menarik. "Mungkin sedikit lelucon dapat mencairkan suasana biar tidak terlalu tegang. Tapi, lelucon seperti apa?", “Pas Bila mendekat mungkin lebih baik berdiri dan menyapa", “Atau sebaiknya duduk saja?". Ketika Adit tengah sibuk memikirkan hal-hal tersebut, tanpa sadar Bila sudah berdiri tepat di depan meja kantin yang Adit tempati. Ia pun sedikit terkejut dan segera berdiri.
“Eh, Bila. Gimana tadi kuliahny--"
“Dit, Aku hamil."
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .



"Dit! Dit! Adiiit..!! mau pesen apa Dit?" teriak Bila yang dari tadi berusaha menyadarkan Adit. Ia tak mengerti entah mengapa Adit melihat lurus ke depan dengan tatapannya yang kosong.
"Eh?~" Adit masih setengah sadar.
"Mau pesen apa?!" tanya Bila.
"Hah? Kenapa Bil?"
"Aku dari tadi nanya mau pesen apa?!" tanya Bila dengan nada sedikit tinggi.
"Oh, iya... Samain aja sama kamu" akhirnya Adit tersadar. Ternyata peristiwa tadi hanyalah ilusi yang timbul dari pikirannya saja. Jika hal itu terjadi Ia tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Untung cuma ilusi" ucapnya sambil menghela nafas lega.
"kenapa Dit?" Bila terlihat bingung setelah melihat apa yang terjadi pada Adit.
"Gak, gak apa-apa"
"Yaudah kalo gitu aku pesen soto nya dulu ya, kamu tunggu di sini."

Tak lama setelah pergi memesan soto, Bila pun kembali.
"Kamu kenapa sih tadi? bengong gitu," tanya Bila yang masih terlihat kebingungan.
"Enggak, itu… kebanyakan mikirin tugas kuliah kayaknya" jelas Adit. Tentu saja Ia tidak akan bilang mengenai ilusi yang baru saja dialaminya itu. Bahkan mengingatnya saja membuatnya takut.
"Halah… bohong. Pasti kamu bengong karena ngeliatin cewek di depan kan? ngaku…!"
"Enggak, dih. Enggak salah lagi, hehehe…"
"kan… kan… kaaan…!! dasar kamu ini."
"Oh, iya. ngomong-ngomong, tumben kamu gak bareng Fajar? kemana dia?" tanya Adit.
"Iya, tadi katanya Dia ada urusan. Jadi pulang duluan."

Adit senang dapat berbicara seakrab ini lagi dengan teman masa kecilnya. Ditambah tidak ada Fajar. Namun, tetap saja masih ada sedikit kecemasan dalam dirinya. Ia penasaran, hal penting apa yang ingin Bila bicarakan.
"Terus katanya kamu mau ngomong sesuatu" tanya Adit, rasa penasaran membuatnya tidak sabar ingin langsung menanyakan hal tersebut.
"Oh, iya. Jadi gini…" belum selesai Bila berbicara, tiba-tiba jantung Adit berdetak cepat, nafasnya tidak beraturan. Ia mengubah posisi duduknya menjadi condong ke arah depan dengan muka yang sangat serius.
"Ibu Aku sebentar lagi ulang tahun, Aku gak tahu hadiah yang bagus apa."
Setelah mendengar hal tersebut, Ia pun mengembalikan posisi duduknya seperti semula dan menghela nafas, merasa lega. Apa yang Ia pikirkan sebelumnya tidak terjadi.
Tapi mungkin ini memang pembicaraan yang sangat penting bagi Bila. Mengingat orangtuanya yang sudah diambang perceraian, jadi Ia ingin memberikan hadiah yang terbaik agar Ibunya tidak terlalu sedih.

"Oh, gitu. Gimana yah… Aku aja gak pernah ngasih kado ulang tahun ke Ibu Aku."
"Masa?!" Bila terkejut.
"Iya, Sorry yah. Tapi kalo menurutku sih apapun yang kamu kasih, pasti itu bakal jadi kado terbaik bagi Ibu kamu. Semua orangtua pasti ngrrasa gitu"
"Hmm… yaudah deh, nanti Aku pikirin sendiri. thanks ya"

"Eh, itu pesenannya udah dateng." Terlihat Ibu kantin yang berjalan mendekat sembari membawa dua porsi soto pesanan Bila.
"Maaf yah dek agak lama, tadi pisau buat motong dagingnya ilang. Udah Ibu cari tapi gak ada. Karena rumah Ibu deket, Jadi Ibu tadi pulang dulu ambil pisau yang baru." Jelas Ibu kantin.
"Kok bisa ilang Bu?" tanya Bila.
"Ibu juga kurang tahu. Mungkin lupa naruhnya dimana, maklum udah tua."
"Yaudah gak apa-apa Bu, yang penting sotonya udah jadi. Terima kasih ya Bu"
"Iya dek"

Adit dan Bila pun segera menyantap soto tersebut. Tampak Adit begitu senang, dulu Ia sangat menantikan moment ini, dan kali ini keinginannya itu dapat terkabul.
Setelah selesai makan, Bila terlihat menatap Adit dan berkata ingin segera pergi. Adit sebenarnya ingin lebih lama lagi mengobrol dengan Bila. Namun apa boleh buat, Ia hanya dapat berharap kesempatan seperti ini dapat kembali menghampiri dirinya.
"Yaudah Dit, kayaknya Aku mau langsung pulang aja. Sotonya udah dibayar kok. Makasih yah, udah nemenin makan siang"
"Wah, jadi gak enak nih. Justru Aku yang harus bilang makasih, udah ditraktir. Sorry banget gak bisa bantu banyak soal kado ulang tahun Ibu kamu."
"Iya, gapapa Dit. Kalo gitu Aku pergi dulu yah"
Entah ilusi atau bukan, tapi Adit melihat Bila meneteskan air mata ketika Ia berdiri dari tempat duduknya. Tetapi Adit tidak terlalu mengindahkan hal tersebut. Ia tak mau tertipu lagi oleh ilusi seperti sebelumnya.
Tak lama setelah Bila pergi, Adit pun bersiap pulang karena hari sudah sore. Namun, Sesaat setelah berdiri dan hendak meninggalkan kantin. Dari kejauhan Ia melihat dua orang keluar dari gedung fakultas bahasa dan seni. Rupanya Adit tidak asing dengan kedua orang itu. mereka seperti sedang terburu-buru.
"Itu kan Fajar sama Sita. Kata Bila, Fajar pulang duluan. Tapi kok masih dikampus. Terus ngapain Dia bareng sama Sita."
Rasa penasaran memang sempat muncul dalam pikiran Adit, namun rupanya Ia memilih untuk acuh atas apa yang Ia lihat barusan. Mungkin saja Fajar balik lagi ke kampus karena lupa sesuatu dan melihat Fajar berjalan bersama Sita bukanlah hal aneh mengingat mereka berada dikelas yang sama. Lagipula sekarang Adit harus segera mengembalikan charger milik Asep.

Sore itu suasana kampus begitu sepi, langit yang cerah membuat warna jingga menyelimuti seluruh kota. Matahari yang hendak terbenam tak pernah seindah ini terjadi di perkotaan. Entah hal apa yang akan terjadi dikota ini, yang jelas Ia merasakan firasat buruk akan hal ini. Dengan tenang Adit melangkahkan kakinya, beranjak dari kantin. Ia harus mencari Asep.
Adit sudah mencari ke beberapa tempat. Namun Ia tidak menemukan keberadaan Asep. Adit baru teringat, mungkin saja Ia masih membersihkan gudang lantai 4.
Hari sudah semakin gelap, Ia harus segera mengembalikan charger milik Asep dan segera pulang. Jika tidak Ibu pasti akan marah lagi dan mencubit pinggangnya. Adit yang tak mau hal itu terjadi segera bergegas menuju lantai 4 gedung fakultas bahasa dan seni.
Lift yang dinaikinya perlahan bergerak menuju lantai 4. Firasat yang Ia rasakan tadi kian menguat. Lift berbunyi, pintunya terbuka, pertanda Adit sudah tiba di lantai tujuannya.
Suasana begitu sunyi, tak terlihat seorang pun di sana. Hingga tiba-tiba terdengar suara, seperti seseorang yang sedang berdebat, bertengkar hebat. Suara itu kian terdengar jelas ketika langkah Adit semakin mendekat ke arah datangnya suara. mungkin masih ada seseorang di dalam kelas, pikirnya. Namun rupanya Ia salah, suara itu datang dari gudang lantai 4. Tempat yang sedang Ia tuju sedari tadi. Tak terdengar jelas apa yang mereka selisihkan di dalam gudang, namun yang pasti suara dari masing-masing mereka terdengar semakin lantang.

"TOLONG…! TOLOOONGG..!!" Tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita.

Tak lama setelah terdengar teriakan minta tolong, terlihat darah mengalir keluar dari celah bawah pintu gudang. Sontak hal ini membuat Adit terkejut bukan main. Belum sampai disitu. Terderang suara pecahan kaca yang sangat keras. Yang membuat Adit sangat terkejut adalah kenyataan bahwa suara wanita itu sangat tidak asing baginya. Pupil matanya mengecil, nafasnya menjadi berat, namun meski begitu Adit tetap melanjutkan langkahnya menuju gudang lantai 4. Hingga ketika tiba di depan pintu, tangannya gemetar, bagian bawah sepatunya menjadi warna merah karena Ia berdiri tepat diatas cairan darah yang mengalir dari bawah pintu. Adit pun memejamkan matanya, berusaha mengontrol kembali ritme pernafasannya yang tadi sempat tak karuan. ketika sudah lebih tenang, Ia mengumpulkan keberanian dan segera membuka pintu tersebut.
Pintu terbuka, apa yang kini tengah Ia lihat dengan kedua matanya seakan membuatnya tak mampu lagi membedakan mana ilusi mana kenyataan. Seorang wanita yang sudah Ia kenal sejak lama, wanita yang Ia kagumi, Ia cintai. Kini terbujur kaku bersimbah darah dihadapannya. Di dada kirinya menancap sebuah pisau yang sering Ia lihat ketika memesan semangkuk soto. Rupanya itu pisau milik Ibu kantin yang hilang. Terlihat juga kaca jendela gudang yang pecah. Tatapan Adit seketika menjadi kosong dengan pupil mata yang kembali mengecil seakan Ia tak percaya dengan apa yang Ia lihat di depan matanya. Tak sepatah katapun mampu Ia ucapkan Tidak peduli seberapa keras Ia ingin menjerit. Cahaya Langit senja yang menyelimuti kota sore itu menerobos masuk melalui jendela dengan kacanya yang sudah pecah.
。。。。。。。。。。。。。。。。。。。

Adit berhasil membawa Bila ke rumah sakit, Namun nyawa Bila tak dapat tertolong. Begitu pun dengan bayi 4 minggu yang dikandungnya… Ya, Bila sedang hamil.
Adit tersadar, ternyata hal penting yang Bila ingin bicarakan tadi siang bukanlah tentang kado ulang tahun Ibunya, melainkan tentang hal ini. Namun Bila tak sanggup mengatakannya dan akhirnya berubah pikiran. Itulah kenapa saat hendak pergi dari kantin Ia terlihat meneteskan air mata. Ia sedih karena tak bisa jujur kepada teman yang sudah menemaninya sedari kecil. Kenyataan ini semakin membuat Adit terguncang. Ia hanya bisa tertunduk lesu dengan tatapannya yang kosong. Pikirannya seperti pergi jauh dari raganya. Ia tak terima dengan apa yang telah terjadi. Mengapa teman masa kecilnya harus pergi dengan cara seperti ini. Air mata yang sedari tadi Ia tahan, kini tak terbendung lagi. Ia tersungkur di lantai rumah sakit, menjerit, menangis, meluapkan semua emosi yang sudah tak terbendung. Hingga tiba-tiba Ia tak sadarkan diri.

"Dit! Dit! Adiiit..!! mau pesen apa Dit?"
. . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . .
"ADIIITT..!!"
. . . . . . . . . . . . . . .
telinganya berdengung, pandangannya masih kabur. terdengar suara yang memanggil-manggil namanya.
Seketika Adit pun tersadar, Ia tengah duduk di kantin dan di hadapannya terlihat sosok Bila yang sedari tadi berusaha berteriak menyadarkannya.
"Bila..." Ucap Adit yang masih setengah sadar. Ia tak mengerti dengan apa yang Ia alami barusan. Ia yakin sekali jika Bila sudah terbunuh. Adit sudah tidak mengerti lagi dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa jika waktu seperti berputar balik. Mungkin saja ini kesempatan yang diberikan untuknya agar bisa mencegah terbunuhnya Bila.
"Akhirnya sadar juga, Mau pesen apa?!" tanya Bila.
"Samain aja sama kamu."
"Oke deh, yaudah kalo gitu aku pesen soto nya dulu ya, kamu tunggu di sini"

Tiba-tiba saja Adit teringat dengan pisau ibu kantin yang menancap ditubuh Bila.

"Eh, Bil. Aku aja yang mesen. Kamu tunggu disini." Ucap Adit.
"Gak apa-apa aku aja yang pesen."

Adit harus segera mengambil tindakan. Ia tak ingin kejadian yang sama terulang. Dengan segera Ia berdiri dan menggenggam tangan Bila cukup erat dengan tatapan yang serius.

"Udah aku aja yang pesen, kamu tunggu di sini."
Adit pun pergi memesan dua porsi soto, tak lupa Ia mengambil pisau Ibu kantin penyebab terbunuhnya Bila, memasukkannya ke dalam tas  dan segera kembali ke meja kantin. Kali ini Ia pasti bisa menyelamatkan Bila.
Setelah selesai makan, Adit mengajak Bila masuk ke gedung fakultas bahasa dan seni. Ia ingin menunjukkan kepada Bila jika Fajar berbohong dan kini tengah berduaan bersama Sita. Adit pun mencari keberadaan Fajar, hingga sampai lah mereka di lantai 4. Terlihat Fajar tengah berbicara dengan Sita di dekat toilet. Mereka berdua bersembunyi dan mencoba mencari tahu apa sedang Fajar dan Sita bicarakan.

"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus gugurin kandungannya Bila. Katanya kamu cuma main-main doang sama Bila, gak mau serius. Tapi tahunya kamu sampe bikin dia hamil. Kamu tahukan kalo Aku tuh sayang sama Kamu Jar." Ucap Sita.

Adit dan Bila yang mendengar hal tersebut terkejut. Mereka seakan tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Terlebih lagi bagi Bila yang tengah mengandung anaknya Fajar. Bila sampai rela membuang masa depannya demi pria yang Ia cintai tersebut.
Tak lama kemudian Fajar pun sadar jika ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan mereka. Tidak ingin ketahuan, Adit pun menarik Bila dan berlari. terlihat pintu gudang lantai 4 yang tengah terbuka. tidak pikir panjang mereka segara masuk dan bersembunyi di sana.
Fajar dan Sita mengejar, mereka berdua berhenti di depan gudang lantai 4. Rupanya Fajar mempunyai firasat jika orang yang menguping tadi bersembunyi di sana. Fajar pun mendekat selangkah demi selangkah ke arah pintu. Namun tak lama kemudian terdengar suara Lift. Seketika Fajar dan Sita pun memilih pergi, turun melewati tangga. Karena akan bahaya jika seseorang mendapati mereka tengah berduaan di lantai gedung yang sepi.
Adit yang mengetahui Fajar dan Sita telah pergi, merasa lega. Namun tidak dengan Bila, Ia masih terlihat terguncang atas apa yang Ia dengar.

"Bil… Bila!! Kamu gak apa-apa kan? Bil?!"
Bila hanya terdiam. mengetahui Pria yang Ia cintai dan sahabat yang Ia percaya tega melakukan hal seperti ini.
"Dari dulu Aku emang gak suka sama Fajar. Tapi Kamu lebih memilih Fajar, orang yang baru aja kamu kenal dibanding Aku yang udah lama kenal sama kamu. Padahal Aku sayang banget sama kamu Bil. Aku rela ngelakuin apa aja deni Kamu. Tapi kamu lebih milih Dia. Apa karena dia anak orang kaya?!"

"TAHU APA KAMU SOAL FAJAR?!" Tiba-tiba Bila berteriak, dengan ekspresi yang sangat marah.

"Kamu tahu kan Dit? seberapa sedih aku disaat kedua orangtua Aku mau cerai. Aku butuh orang untuk terus ada di samping Aku. Dan orang itu adalah Fajar, Dia selalu ada disamping Aku, menghibur aku ketika aku lagi sedih. Tapi kemana orang yang udah kenal lama sama Aku? Dia gak ada disaat aku lagi butuh "

"JADI KAMU MASIH BELAIN DIA?! orang yang udah jelas-jelas nyakitin kamu. IYA?!"

"CUKUP!! Aku gak mau denger apa-apa lagi dari kamu. Lebih baik aku gak pernah kenal sama orang kayak Kamu"

Apa yang terlontar dari mulut Bila tadi membuat amarah Adit semakin menjadi-jadi. Bila tak pernah tahu jika Ia sudah berusaha keras untuk dapat kembali dekat dengannya. Namun tak peduli seberapa keras Ia berusaha, perasaan dan keinginannya takan pernah bisa tersampaikan.

Kini Adit tidak dapat mengontrol emosinya lagi, setelah apa yang Ia lewati hingga hari ini. Ia tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi, hatinya sudah digelapkan oleh amarah, kebencian, dan sakit hati.
Ia mengambil pisau dari dalam tasnya dan menghujamkannya ke arah dada kiri Bila. Bila pun terjatuh dan berteriak meminta tolong. Kedua tangan Adit penuh dengan darah. Ia pun berjalan mendekati jendela dengan tatapannya yang kosong. Ia sudah tidak peduli lagi dengan ilusi dan kenyataan. Ia mengambil kursi rusak yang berada di dekatnya dan melemparkan ke arah jendela.
Kemudian Adit pun berlari ke arah jendela dan melompat keluar. Ia terjun bebas dari lantai 4. Adit menatap ke atas, ke arah langit. Sungguh langit senja yang menyelimuti kota sore itu begitu indah. Ia memejamkan matanya, berharap kisahnya seindah langit yang Ia lihat. Seketika pandangannya menjadi putih, Lalu terdengar suara wanita.
. . . . . . . . . . . . . . . .
"Dit! Diiit!! Adiiiiitt!! Kamu mau pesen apa Dit?"
. . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . .

~langit senja yang menyelimuti kota sore itu~


-Adam Hamdani


Continue reading Langit Senja yang Menyelimuti Kota Sore Itu